Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 April 2012
Laporan Praktikum : Termokimia dan Kalorimeter
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
TERMOKIMIA
DAN KALORIMETER
OLEH
HARIANI ISMAIL
XI IPA A
XI IPA A
SMAN
01 UNGGULAN KAMANRE
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Entalpi
adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi internal dari
suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja
pada sebuah materi. Entalpi digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi
pembentukan standar, entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar, dan
entalpi pelarutan standar. Entalpi yang berperan disini adalah entalpi
pelarutan, yang dimaksud dengan entalpi pelarutan adalah jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar.
Pada
larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat
yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama
dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap.
Secara umum panas kelarutan adalah positif (endotermis) sehingga menurut Van’t
Hoff makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan
untuk zat-zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi
suhu akan makin berkurang zat yang dapat larut.
1.2 Tujuan
Percobaan
-
Untuk
menghitung harga ΔH reaksi melalui percobaan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perubahan Entalpi
Suatu sistem
dapat mengalami perubahan karena berbagai hal, misalnya akibat perubahan suhu,
perubahan volume, maupun perubahan tekanan. Bila sistem mengalami perubahan
pada \ tekanan tetap, maka perubahan kalor disebut dengan perubahan entalpi
(ΔH). Satuan ΔH adalah Joule / mol.
ΔH = - qp
....................................................................................(1)
Besarnya
perubahan entalpi suatu sistem dinyatakan sebagai selisih besarnya entalpi sistem
setelah mengalami perubahan dan sebelum mengalami perubahan, yang dapat dirumuskan
sebagai berikut :
ΔH = Hakhir - Hawal
........................................................................(2)
Suatu reaksi
kimia dibedakan menjadi reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila sistem tersebut melepas
panas atau kalor sehingga ΔH <0. Sedangkan suatu reaksi dikatakan endoterm bilas istem menyerap kalor
atau panas atau energi dari lingkungannya untuk proses reaksi tersebut dan
berarti ΔH>0. Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dengan basa yang
menghasilkan garam. Umumnya reaksi netralisasi bersifat eksotermik. Perubahan
entalpi netralisasi atau ΔHn didefinisikan sebagai perubahan entalpi pada reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol air (H2O).
Kalor merupakan
bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan suhu. Jadi perubahan kalor
suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang 2 terjadi.
Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor
jenis zat dan perubahan suhunya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu Praktikum
Praktikum
dilaksanakan di Laboratorium Fisika SMAN 01
Unggulan Kamanre pada hari kamis.
3.2 Alat
dan Bahan Praktikum
ð Termokimia
1. Gelas kimia dan
pengaduk.
2. NaOH 0.1 M : H2O
ð Kalorimeter
1. Perangkat kalori meter
2. Gelas kimia 100 ml
3. Pengaduk
4. Termometer
5. NaOH 1 M, HCL 1M, H2O.
3.3 Cara
Kerja
ð Termokimia
1.
Mengisi
Gelas Kimia (NaOH 0.1 M : H2O)
2.
Mengaduk
masing-masing gelas kimia tersebut.lalu menyentuh dinding tabung untuk
merasakan panas atau tidak.
3.
Mengisi
tabel pengamatan.
ð Kalorimeter
1. Mengisi gelas kimia
100 ml dengan 50 cm3 NaOH 1 M,mengukur suhu dan mencatatnya mengisi
gelas kimia 100 ml=50 cm3 HCL 1 M, mengukur suhu dan mencatatnya.
2. Menyediakan perangkat
kalorimeter sederhana ,mengisinya dengan NaOH lalu HCL,mengaduk,mengukur,suhu
yang konstan dan mencatatnya.
3. Mengisi table
pengamatan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
TABEL
PENGAMATAN
ð
Termokimia
Larutan
|
Keadaan
|
Hasil
|
NaOH 0,1 M + H2O
|
Hangat
|
Eksoterm
|
ð Kalorimeter
Temperatur Awal
|
Temperatur Akhir
|
Selisih Temperatur
|
CH3COOH= -0,2 0C
|
|
(∆T) = T2-T1
|
NaOH 1 M= -0,2 0C
|
Hd + NaOH(T2)=0,2 0C
|
=0,2-0 0C
|
Ti (rata-rata)= 0 0C
|
|
=0,2 0C
|
4.2 Analisis
Data
Hasil penelitian di atas pada
termokimia pada larutan NaOH 0,1 M + H2O dalam keadaan hangat
(eksoterm),
pada kalori meter pada larutan CH3COOH
memiliki temperatur awal -0,8 oc dan pada NaOH 1M temperatur awalnya
yaitu +0,3 oc.setelah itu hasil masing-masing larutan tersebut
dikurangkan seperti rumus : ∆T=T2-T1
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
- Semakin tinggi suhu maka semakin besar
tingkat kelarutannya.
- Tekanan tidak berpengaruh besar terhadap
kelarutan.
- Digunakan garam sebagai penurun titik
beku air serta meningkatkan titik didih air.
- Eksoterm merupakan proses pelepasan kalor
dari sistem ke lingkungan.
- Endoterm ialah proses penyerapan kalor
dari lingkungan ke sistem.
- Percobaan entalpi pelarutan ini merupakan
proses endoterm.
5.2 Saran
- Selalu
periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna mendapatkan hasil
yang lebih akurat.
- Selalu
tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang
optimal.
- Ikuti
petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Anonim. 2010. Asam Asetat. http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Hidroksida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Klorida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Klorida diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Pheolptealein. http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Brady, James. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta :
Bina Rupa Aksara.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.
Laporan Praktikum : Laju Reaksi
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU
REAKSI
OLEH
HARIANI
ISMAIL
XI IPA A
XI IPA A
SMAN
01 UNGGULAN KAMANRE
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya
jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu.
Satuan jumlah zat bermacam- macam, misalnya gram, mol, atau konsentrasi.
Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari, ataupun tahun.
Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau
berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan
satuan konsentrasi (molaritas). Dan
untuk mengetahui lebih jelasnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
laju reaksi maka kita lakukan sebuah praktikum tentang laju reaksi.
1.2 Tujuan
Percobaan
-
Untuk
mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju
Reaksi
·Konsentrasi
Pada umumnya,
reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar.
Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih
banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat
yang konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat,
akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang
susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.
·
Luas Permukaan
Salah satu syarat
agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat pereaksi harus bercampur atau
bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi
pada bidang batas campuran. Bidang batas campuran inilah yang dimaksud
dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan
berlangsung lebih cepat.
·
Temperatur
Setiap partikel
selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi
kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan
frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan
terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin
besar. Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial
suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan
sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut
tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini
akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan
menghasilkan reaksi.
·
Katalis
Katalis adalah
suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir
reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi
aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka
reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat-zat yang
bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu Praktikum
Praktikum
dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMAN 01 Unggulan Kamanre pada tanggal 06 November 2011.
3.2 Alat
dan Bahan Praktikum
J 3 aqua gelas kosong
J 3 aqua gelas berisi
air
J Air dingin
J Garam halus
J Garam kasar
J Cuka
J Pengaduk
J Stopwatch atau jam
3.3 Cara
Kerja
- Percobaan I (Konsentrasi)
1. Siapkan
2 gelas aqua yang telah berisi larutan ,gelas pertama berisi larutan H2O
dan yang gelas kedua berisi larutan cuka.
2. Kemudian
masukkan 1 sendok garam halus pada masing-masing gelas tersebut.
3. Aduklah,
mana yang cepat larut larutan yang encer atau pekat. Dengan menggunakan
stopwatch atau jam.
·
Percobaan II (suhu)
1. Siapkan
2 gelas aqua yang berisi air normal dan yang satunya berisi air dingin.
2. Berikan
1 sendok garam halus ,pada masing-masing gelas tersebut.
3. Kemudian
aduk dan amati mana yang lebih cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau
jam
·
Percobaan III (Luas permukaan zat)
1.Siapkan
2 gelas aqua yang berisi air normal.
2.Masukkan
1 sendok garam kasar kedalam gelas aqua
tersebut dan 1 sendok garam halus pada aqua gelas kedua.
3.Kemudian
amati, mana yang cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.
·
Percobaan IV (KATALIS)
1. Siapkan 2 buah pisang yang masih muda.
2. Kemudian pisang yang satu bungkus dengan
kantong plastik.dan yang satunya tidak.
3. Pada pisang yang dibungkus dengan kantong
plastik masukkan sedikit karbit,dan yang satunya tidak.
4. Amati beberapa hari,pisang mana yang cepat
kuning.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
TABEL PENGAMATAN
No
|
Faktor
yang mempengaruhi laju reaksi
|
Bahan
|
Hasil
|
1.
|
Konsentrasi
|
- Pekat(larutan cuka) + garam halus
- Encer (larutan cuka + air) + garam
halus
|
-
23 detik
-
50 detik.
|
2.
|
Suhu
|
- Gelas
berisi air normal + garam halus
- Gelas
berisi air dingin + garam halus
|
-
23 detik
-
50 detik
|
3.
|
Luas Permukaan
|
- Air
normal + garam halus
- Air
dingin + garam kasar
|
-
32 detik
-
80 detik
|
-
Katalis
No.
|
Jenis pisang
|
Kuning
|
Tak kuning
|
Waktu
|
1.
|
Karbit
|
Ø
|
-
|
1 hari
|
2.
|
Tak karbit
|
-
|
Ø
|
3 hari
|
4.2 Analisis
Data
·
Suhu,
pada larutan air normal + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan air dingin
+ garam halus dengan waktu 50 detik.
·
Konsentrasi
pada larutan Pekat (larutan cuka) + garam halus dengan waktu 23 detik, pada
larutan Encer (larutan cuka + air) + garam halus dengan waktu 50 detik.
·
Luas
permukaan zat pada larutan Garam halus + air normal dengan waktu 32 detik, pada
larutan Garam kasar + air normal dengan waktu 80 detik.
·
Katalis
, pada pisang yang diberi karbit pisang akan bisa kuning hanya 1 hari sedangkan
pisang yang tidak diberi karbit tidak kuning, pisang yang tidak diberi karbit hanya
bisa kuning pada saat 3 hari.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan, larutan cuka (cuka pekat) yang
dicampurkan dengan garam halus mengalami pelarutan yang sangat cepat
dibandingkan dengan larutan cuka yang dicampurkan dengan air (cuka encer).
5.1 Saran
Didalam melakukan praktikum sebaiknya
siwa – siswi menggunakan pakaian praktikum dan sebaiknya sekolah menyediakan
alat – alat praktikum yang lebih lengkap agar praktikum dapat dilakukan dengan
lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)
Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Rabu, 11 April 2012
Laporan Praktikum : Termokimia dan Kalorimeter
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
TERMOKIMIA
DAN KALORIMETER
OLEH
HARIANI ISMAIL
XI IPA A
XI IPA A
SMAN
01 UNGGULAN KAMANRE
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Entalpi
adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi internal dari
suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja
pada sebuah materi. Entalpi digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi
pembentukan standar, entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar, dan
entalpi pelarutan standar. Entalpi yang berperan disini adalah entalpi
pelarutan, yang dimaksud dengan entalpi pelarutan adalah jumlah kalor yang
diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar.
Pada
larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat
yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama
dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap.
Secara umum panas kelarutan adalah positif (endotermis) sehingga menurut Van’t
Hoff makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan
untuk zat-zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi
suhu akan makin berkurang zat yang dapat larut.
1.2 Tujuan
Percobaan
-
Untuk
menghitung harga ΔH reaksi melalui percobaan.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perubahan Entalpi
Suatu sistem
dapat mengalami perubahan karena berbagai hal, misalnya akibat perubahan suhu,
perubahan volume, maupun perubahan tekanan. Bila sistem mengalami perubahan
pada \ tekanan tetap, maka perubahan kalor disebut dengan perubahan entalpi
(ΔH). Satuan ΔH adalah Joule / mol.
ΔH = - qp
....................................................................................(1)
Besarnya
perubahan entalpi suatu sistem dinyatakan sebagai selisih besarnya entalpi sistem
setelah mengalami perubahan dan sebelum mengalami perubahan, yang dapat dirumuskan
sebagai berikut :
ΔH = Hakhir - Hawal
........................................................................(2)
Suatu reaksi
kimia dibedakan menjadi reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila sistem tersebut melepas
panas atau kalor sehingga ΔH <0. Sedangkan suatu reaksi dikatakan endoterm bilas istem menyerap kalor
atau panas atau energi dari lingkungannya untuk proses reaksi tersebut dan
berarti ΔH>0. Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dengan basa yang
menghasilkan garam. Umumnya reaksi netralisasi bersifat eksotermik. Perubahan
entalpi netralisasi atau ΔHn didefinisikan sebagai perubahan entalpi pada reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol air (H2O).
Kalor merupakan
bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan suhu. Jadi perubahan kalor
suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang 2 terjadi.
Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor
jenis zat dan perubahan suhunya.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu Praktikum
Praktikum
dilaksanakan di Laboratorium Fisika SMAN 01
Unggulan Kamanre pada hari kamis.
3.2 Alat
dan Bahan Praktikum
ð Termokimia
1. Gelas kimia dan
pengaduk.
2. NaOH 0.1 M : H2O
ð Kalorimeter
1. Perangkat kalori meter
2. Gelas kimia 100 ml
3. Pengaduk
4. Termometer
5. NaOH 1 M, HCL 1M, H2O.
3.3 Cara
Kerja
ð Termokimia
1.
Mengisi
Gelas Kimia (NaOH 0.1 M : H2O)
2.
Mengaduk
masing-masing gelas kimia tersebut.lalu menyentuh dinding tabung untuk
merasakan panas atau tidak.
3.
Mengisi
tabel pengamatan.
ð Kalorimeter
1. Mengisi gelas kimia
100 ml dengan 50 cm3 NaOH 1 M,mengukur suhu dan mencatatnya mengisi
gelas kimia 100 ml=50 cm3 HCL 1 M, mengukur suhu dan mencatatnya.
2. Menyediakan perangkat
kalorimeter sederhana ,mengisinya dengan NaOH lalu HCL,mengaduk,mengukur,suhu
yang konstan dan mencatatnya.
3. Mengisi table
pengamatan.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
TABEL
PENGAMATAN
ð
Termokimia
Larutan
|
Keadaan
|
Hasil
|
NaOH 0,1 M + H2O
|
Hangat
|
Eksoterm
|
ð Kalorimeter
Temperatur Awal
|
Temperatur Akhir
|
Selisih Temperatur
|
CH3COOH= -0,2 0C
|
|
(∆T) = T2-T1
|
NaOH 1 M= -0,2 0C
|
Hd + NaOH(T2)=0,2 0C
|
=0,2-0 0C
|
Ti (rata-rata)= 0 0C
|
|
=0,2 0C
|
4.2 Analisis
Data
Hasil penelitian di atas pada
termokimia pada larutan NaOH 0,1 M + H2O dalam keadaan hangat
(eksoterm),
pada kalori meter pada larutan CH3COOH
memiliki temperatur awal -0,8 oc dan pada NaOH 1M temperatur awalnya
yaitu +0,3 oc.setelah itu hasil masing-masing larutan tersebut
dikurangkan seperti rumus : ∆T=T2-T1
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
- Semakin tinggi suhu maka semakin besar
tingkat kelarutannya.
- Tekanan tidak berpengaruh besar terhadap
kelarutan.
- Digunakan garam sebagai penurun titik
beku air serta meningkatkan titik didih air.
- Eksoterm merupakan proses pelepasan kalor
dari sistem ke lingkungan.
- Endoterm ialah proses penyerapan kalor
dari lingkungan ke sistem.
- Percobaan entalpi pelarutan ini merupakan
proses endoterm.
5.2 Saran
- Selalu
periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna mendapatkan hasil
yang lebih akurat.
- Selalu
tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang
optimal.
- Ikuti
petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi kesalahan.
DAFTAR PUSTAKA
Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Anonim. 2010. Asam Asetat. http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Hidroksida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Klorida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Klorida diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Pheolptealein. http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses
tanggal 22 oktober 2010.
Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Brady, James. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta :
Bina Rupa Aksara.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.
Laporan Praktikum : Laju Reaksi
LAPORAN
PRAKTIKUM KIMIA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU
REAKSI
OLEH
HARIANI
ISMAIL
XI IPA A
XI IPA A
SMAN
01 UNGGULAN KAMANRE
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya
jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu.
Satuan jumlah zat bermacam- macam, misalnya gram, mol, atau konsentrasi.
Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari, ataupun tahun.
Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau
berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan
satuan konsentrasi (molaritas). Dan
untuk mengetahui lebih jelasnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi
laju reaksi maka kita lakukan sebuah praktikum tentang laju reaksi.
1.2 Tujuan
Percobaan
-
Untuk
mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju
Reaksi
·Konsentrasi
Pada umumnya,
reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar.
Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih
banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat
yang konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat,
akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang
susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.
·
Luas Permukaan
Salah satu syarat
agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat pereaksi harus bercampur atau
bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi
pada bidang batas campuran. Bidang batas campuran inilah yang dimaksud
dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan
berlangsung lebih cepat.
·
Temperatur
Setiap partikel
selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi
kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan
frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan
terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin
besar. Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial
suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan
sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut
tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini
akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan
menghasilkan reaksi.
·
Katalis
Katalis adalah
suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir
reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi
aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka
reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat-zat yang
bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat
dan Waktu Praktikum
Praktikum
dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMAN 01 Unggulan Kamanre pada tanggal 06 November 2011.
3.2 Alat
dan Bahan Praktikum
J 3 aqua gelas kosong
J 3 aqua gelas berisi
air
J Air dingin
J Garam halus
J Garam kasar
J Cuka
J Pengaduk
J Stopwatch atau jam
3.3 Cara
Kerja
- Percobaan I (Konsentrasi)
1. Siapkan
2 gelas aqua yang telah berisi larutan ,gelas pertama berisi larutan H2O
dan yang gelas kedua berisi larutan cuka.
2. Kemudian
masukkan 1 sendok garam halus pada masing-masing gelas tersebut.
3. Aduklah,
mana yang cepat larut larutan yang encer atau pekat. Dengan menggunakan
stopwatch atau jam.
·
Percobaan II (suhu)
1. Siapkan
2 gelas aqua yang berisi air normal dan yang satunya berisi air dingin.
2. Berikan
1 sendok garam halus ,pada masing-masing gelas tersebut.
3. Kemudian
aduk dan amati mana yang lebih cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau
jam
·
Percobaan III (Luas permukaan zat)
1.Siapkan
2 gelas aqua yang berisi air normal.
2.Masukkan
1 sendok garam kasar kedalam gelas aqua
tersebut dan 1 sendok garam halus pada aqua gelas kedua.
3.Kemudian
amati, mana yang cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.
·
Percobaan IV (KATALIS)
1. Siapkan 2 buah pisang yang masih muda.
2. Kemudian pisang yang satu bungkus dengan
kantong plastik.dan yang satunya tidak.
3. Pada pisang yang dibungkus dengan kantong
plastik masukkan sedikit karbit,dan yang satunya tidak.
4. Amati beberapa hari,pisang mana yang cepat
kuning.
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1
Hasil Pengamatan
TABEL PENGAMATAN
No
|
Faktor
yang mempengaruhi laju reaksi
|
Bahan
|
Hasil
|
1.
|
Konsentrasi
|
- Pekat(larutan cuka) + garam halus
- Encer (larutan cuka + air) + garam
halus
|
-
23 detik
-
50 detik.
|
2.
|
Suhu
|
- Gelas
berisi air normal + garam halus
- Gelas
berisi air dingin + garam halus
|
-
23 detik
-
50 detik
|
3.
|
Luas Permukaan
|
- Air
normal + garam halus
- Air
dingin + garam kasar
|
-
32 detik
-
80 detik
|
-
Katalis
No.
|
Jenis pisang
|
Kuning
|
Tak kuning
|
Waktu
|
1.
|
Karbit
|
Ø
|
-
|
1 hari
|
2.
|
Tak karbit
|
-
|
Ø
|
3 hari
|
4.2 Analisis
Data
·
Suhu,
pada larutan air normal + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan air dingin
+ garam halus dengan waktu 50 detik.
·
Konsentrasi
pada larutan Pekat (larutan cuka) + garam halus dengan waktu 23 detik, pada
larutan Encer (larutan cuka + air) + garam halus dengan waktu 50 detik.
·
Luas
permukaan zat pada larutan Garam halus + air normal dengan waktu 32 detik, pada
larutan Garam kasar + air normal dengan waktu 80 detik.
·
Katalis
, pada pisang yang diberi karbit pisang akan bisa kuning hanya 1 hari sedangkan
pisang yang tidak diberi karbit tidak kuning, pisang yang tidak diberi karbit hanya
bisa kuning pada saat 3 hari.
BAB V
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan, larutan cuka (cuka pekat) yang
dicampurkan dengan garam halus mengalami pelarutan yang sangat cepat
dibandingkan dengan larutan cuka yang dicampurkan dengan air (cuka encer).
5.1 Saran
Didalam melakukan praktikum sebaiknya
siwa – siswi menggunakan pakaian praktikum dan sebaiknya sekolah menyediakan
alat – alat praktikum yang lebih lengkap agar praktikum dapat dilakukan dengan
lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)