Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

Tabel SPU


Laporan Praktikum : Termokimia dan Kalorimeter


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
TERMOKIMIA DAN KALORIMETER


OLEH


HARIANI ISMAIL
XI IPA A



SMAN 01 UNGGULAN KAMANRE
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja pada sebuah materi. Entalpi digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi pembentukan standar, entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar, dan entalpi pelarutan standar. Entalpi yang berperan disini adalah entalpi pelarutan, yang dimaksud dengan entalpi pelarutan adalah jumlah kalor yang diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar.
Pada larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Secara umum panas kelarutan adalah positif (endotermis) sehingga menurut Van’t Hoff makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan untuk zat-zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi suhu akan makin berkurang zat yang dapat larut.

1.2  Tujuan Percobaan
-      Untuk menghitung harga ΔH reaksi melalui percobaan.




BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perubahan Entalpi

Suatu sistem dapat mengalami perubahan karena berbagai hal, misalnya akibat perubahan suhu, perubahan volume, maupun perubahan tekanan. Bila sistem mengalami perubahan pada \ tekanan tetap, maka perubahan kalor disebut dengan perubahan entalpi (ΔH). Satuan ΔH adalah Joule / mol.
ΔH = - qp ....................................................................................(1)
Besarnya perubahan entalpi suatu sistem dinyatakan sebagai selisih besarnya entalpi sistem setelah mengalami perubahan dan sebelum mengalami perubahan, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
ΔH = Hakhir - Hawal ........................................................................(2)
Suatu reaksi kimia dibedakan menjadi reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila sistem tersebut melepas panas atau kalor sehingga ΔH <0. Sedangkan suatu reaksi dikatakan endoterm bilas istem menyerap kalor atau panas atau energi dari lingkungannya untuk proses reaksi tersebut dan berarti ΔH>0. Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dengan basa yang menghasilkan garam. Umumnya reaksi netralisasi bersifat eksotermik. Perubahan entalpi netralisasi atau ΔHn didefinisikan sebagai perubahan entalpi pada reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol air (H2O).
Kalor merupakan bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan suhu. Jadi perubahan kalor suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang 2 terjadi. Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor jenis zat dan perubahan suhunya.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisika SMAN 01 Unggulan Kamanre pada hari kamis.

3.2  Alat dan Bahan Praktikum
ð  Termokimia
1.      Gelas kimia dan pengaduk.
2.      NaOH 0.1 M : H2O

ð  Kalorimeter
1.      Perangkat kalori meter
2.      Gelas kimia 100 ml
3.      Pengaduk
4.      Termometer
5.      NaOH 1 M, HCL 1M, H2O.

3.3  Cara Kerja

ð  Termokimia
1.      Mengisi Gelas Kimia (NaOH 0.1 M : H2O)
2.      Mengaduk masing-masing gelas kimia tersebut.lalu menyentuh dinding tabung untuk merasakan panas atau tidak.
3.      Mengisi tabel pengamatan.

ð  Kalorimeter
1.      Mengisi gelas kimia 100 ml dengan 50 cm3 NaOH 1 M,mengukur suhu dan mencatatnya mengisi gelas kimia 100 ml=50 cm3 HCL 1 M, mengukur suhu dan mencatatnya.
2.      Menyediakan perangkat kalorimeter sederhana ,mengisinya dengan NaOH lalu HCL,mengaduk,mengukur,suhu yang konstan dan mencatatnya.
3.      Mengisi table pengamatan.















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Hasil Pengamatan
TABEL PENGAMATAN

ð  Termokimia

Larutan
Keadaan
Hasil
NaOH 0,1 M + H2O
Hangat
Eksoterm


ð  Kalorimeter

Temperatur Awal
Temperatur Akhir
Selisih Temperatur
CH3COOH= -0,2 0C

(T) = T2-T1
NaOH 1 M= -0,2 0C
Hd + NaOH(T2)=0,2 0C
=0,2-0 0C
Ti (rata-rata)= 0 0C

=0,2 0C

4.2 Analisis Data

Hasil penelitian di atas pada termokimia pada larutan NaOH 0,1 M + H2O dalam keadaan hangat (eksoterm),
pada kalori meter pada larutan CH3COOH memiliki temperatur awal -0,8 oc dan pada NaOH 1M temperatur awalnya yaitu +0,3 oc.setelah itu hasil masing-masing larutan tersebut dikurangkan seperti rumus : ∆T=T2-T1
BAB V
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
  • Semakin tinggi suhu maka semakin besar tingkat kelarutannya.
  • Tekanan tidak berpengaruh besar terhadap kelarutan.
  • Digunakan garam sebagai penurun titik beku air serta meningkatkan titik didih air.
  • Eksoterm merupakan proses pelepasan kalor dari sistem ke lingkungan.
  • Endoterm ialah proses penyerapan kalor dari lingkungan ke sistem.
  • Percobaan entalpi pelarutan ini merupakan proses endoterm.

5.2    Saran
  • Selalu periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna mendapatkan hasil yang lebih akurat.
  • Selalu tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  • Ikuti petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi kesalahan.








DAFTAR PUSTAKA
Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Anonim. 2010. Asam Asetat. http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Hidroksida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Klorida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Klorida diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Pheolptealein. http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses tanggal 22 oktober 2010.
Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Brady, James. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.






Laporan Praktikum : Laju Reaksi


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI


OLEH
HARIANI ISMAIL
XI IPA A

SMAN 01 UNGGULAN KAMANRE




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Satuan jumlah zat bermacam- macam, misalnya gram, mol, atau konsentrasi. Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari, ataupun tahun. Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan satuan konsentrasi (molaritas). Dan  untuk mengetahui lebih jelasnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi maka kita lakukan sebuah praktikum tentang laju reaksi.

1.2  Tujuan Percobaan
-      Untuk mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi










BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
·Konsentrasi
Pada umumnya, reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat yang konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat, akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.
·   Luas Permukaan
Salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat pereaksi harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran. Bidang batas campuran inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan berlangsung lebih cepat.
·   Temperatur
Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar. Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan menghasilkan reaksi.
·   Katalis
Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat-zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.













BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMAN 01 Unggulan Kamanre pada tanggal 06 November 2011.

3.2  Alat dan Bahan Praktikum
J  3 aqua gelas kosong
J  3 aqua gelas berisi air
J  Air dingin
J  Garam halus
J  Garam kasar
J  Cuka
J  Pengaduk
J  Stopwatch atau jam

3.3  Cara Kerja
  • Percobaan I (Konsentrasi)
1.      Siapkan 2 gelas aqua yang telah berisi larutan ,gelas pertama berisi larutan H2O dan yang gelas kedua berisi larutan cuka.
2.      Kemudian masukkan 1 sendok garam halus pada masing-masing gelas tersebut.
3.      Aduklah, mana yang cepat larut larutan yang encer atau pekat. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.

·         Percobaan II (suhu)
1.      Siapkan 2 gelas aqua yang berisi air normal dan yang satunya berisi air dingin.
2.      Berikan 1 sendok garam halus ,pada masing-masing gelas tersebut.
3.      Kemudian aduk dan amati mana yang lebih cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam
·         Percobaan III (Luas permukaan zat)
1.Siapkan 2 gelas aqua yang berisi air normal.
2.Masukkan 1 sendok garam kasar kedalam  gelas aqua tersebut dan 1 sendok garam halus pada aqua gelas kedua.
3.Kemudian amati, mana yang cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.
·         Percobaan IV (KATALIS)
1.      Siapkan 2 buah pisang yang masih muda.
2.      Kemudian pisang yang satu bungkus dengan kantong plastik.dan yang satunya tidak.
3.      Pada pisang yang dibungkus dengan kantong plastik masukkan sedikit karbit,dan yang satunya tidak.
4.      Amati beberapa hari,pisang mana yang cepat kuning.







BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Hasil Pengamatan

TABEL PENGAMATAN
No
Faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Bahan
Hasil
1.
Konsentrasi
-  Pekat(larutan cuka) + garam halus
-  Encer (larutan cuka + air) + garam halus
-   23 detik


-   50 detik.
2.
Suhu
-  Gelas berisi air normal + garam halus
-  Gelas berisi air dingin + garam halus
-    23 detik


-    50 detik
  3.
Luas Permukaan
-  Air normal + garam halus
-  Air dingin + garam kasar
-    32 detik

-    80 detik





-      Katalis


No.
Jenis pisang
Kuning
Tak kuning
Waktu
1.
Karbit
Ø   
 -
1 hari
2.
Tak karbit
-
Ø   
3 hari


4.2  Analisis Data
·         Suhu, pada larutan air normal + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan air dingin + garam halus dengan waktu 50 detik.
·         Konsentrasi pada larutan Pekat (larutan cuka) + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan Encer (larutan cuka + air) + garam halus dengan waktu 50 detik.
·         Luas permukaan zat pada larutan Garam halus + air normal dengan waktu 32 detik, pada larutan Garam kasar + air normal dengan waktu 80 detik.
·         Katalis , pada pisang yang diberi karbit pisang akan bisa kuning hanya 1 hari sedangkan pisang yang tidak diberi karbit tidak kuning, pisang yang tidak diberi karbit hanya bisa kuning pada saat 3 hari.









BAB V
PENUTUP
5.1   Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan, larutan cuka (cuka pekat) yang dicampurkan dengan garam halus mengalami pelarutan yang sangat cepat dibandingkan dengan larutan cuka yang dicampurkan dengan air (cuka encer).

5.1    Saran
         Didalam melakukan praktikum sebaiknya siwa – siswi menggunakan pakaian praktikum dan sebaiknya sekolah menyediakan alat – alat praktikum yang lebih lengkap agar praktikum dapat dilakukan dengan lebih baik.












DAFTAR PUSTAKA






Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kimia XI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 April 2012

Tabel SPU


Laporan Praktikum : Termokimia dan Kalorimeter


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
TERMOKIMIA DAN KALORIMETER


OLEH


HARIANI ISMAIL
XI IPA A



SMAN 01 UNGGULAN KAMANRE
BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Entalpi adalah istilah dalam termodinamika yang menyatakan jumlah energi internal dari suatu sistem termodinamika ditambah energi yang digunakan untuk melakukan kerja pada sebuah materi. Entalpi digolongkan menjadi beberapa jenis yaitu entalpi pembentukan standar, entalpi penguraian standar, entalpi pembakaran standar, dan entalpi pelarutan standar. Entalpi yang berperan disini adalah entalpi pelarutan, yang dimaksud dengan entalpi pelarutan adalah jumlah kalor yang diperlukan atau dibebaskan untuk melarutkan 1 mol zat pada keadaan standar.
Pada larutan jenuh terjadi keseimbangan antara zat terlarut dalam larutan dan zat yang tidak terlarut. Pada keadaan kesetimbangan ini kecepatan melarut sama dengan kecepatan mengendap dan konsentrasi zat dalam larutan akan selalu tetap. Secara umum panas kelarutan adalah positif (endotermis) sehingga menurut Van’t Hoff makin tinggi temperatur maka akan semakin banyak zat yang larut. Sedangkan untuk zat-zat yang panas pelarutannya negatif (eksotermis), maka semakin tinggi suhu akan makin berkurang zat yang dapat larut.

1.2  Tujuan Percobaan
-      Untuk menghitung harga ΔH reaksi melalui percobaan.




BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Perubahan Entalpi

Suatu sistem dapat mengalami perubahan karena berbagai hal, misalnya akibat perubahan suhu, perubahan volume, maupun perubahan tekanan. Bila sistem mengalami perubahan pada \ tekanan tetap, maka perubahan kalor disebut dengan perubahan entalpi (ΔH). Satuan ΔH adalah Joule / mol.
ΔH = - qp ....................................................................................(1)
Besarnya perubahan entalpi suatu sistem dinyatakan sebagai selisih besarnya entalpi sistem setelah mengalami perubahan dan sebelum mengalami perubahan, yang dapat dirumuskan sebagai berikut :
ΔH = Hakhir - Hawal ........................................................................(2)
Suatu reaksi kimia dibedakan menjadi reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila sistem tersebut melepas panas atau kalor sehingga ΔH <0. Sedangkan suatu reaksi dikatakan endoterm bilas istem menyerap kalor atau panas atau energi dari lingkungannya untuk proses reaksi tersebut dan berarti ΔH>0. Reaksi netralisasi adalah reaksi asam dengan basa yang menghasilkan garam. Umumnya reaksi netralisasi bersifat eksotermik. Perubahan entalpi netralisasi atau ΔHn didefinisikan sebagai perubahan entalpi pada reaksi asam dan basa yang menghasilkan 1 mol air (H2O).
Kalor merupakan bentuk energi yang terjadi akibat adanya perubahan suhu. Jadi perubahan kalor suatu reaksi dapat diukur melalui pengukuran perubahan suhu yang 2 terjadi. Jumlah kalor yang diserap atau dilepas suatu sistem sebanding dengan massa, kalor jenis zat dan perubahan suhunya.



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Fisika SMAN 01 Unggulan Kamanre pada hari kamis.

3.2  Alat dan Bahan Praktikum
ð  Termokimia
1.      Gelas kimia dan pengaduk.
2.      NaOH 0.1 M : H2O

ð  Kalorimeter
1.      Perangkat kalori meter
2.      Gelas kimia 100 ml
3.      Pengaduk
4.      Termometer
5.      NaOH 1 M, HCL 1M, H2O.

3.3  Cara Kerja

ð  Termokimia
1.      Mengisi Gelas Kimia (NaOH 0.1 M : H2O)
2.      Mengaduk masing-masing gelas kimia tersebut.lalu menyentuh dinding tabung untuk merasakan panas atau tidak.
3.      Mengisi tabel pengamatan.

ð  Kalorimeter
1.      Mengisi gelas kimia 100 ml dengan 50 cm3 NaOH 1 M,mengukur suhu dan mencatatnya mengisi gelas kimia 100 ml=50 cm3 HCL 1 M, mengukur suhu dan mencatatnya.
2.      Menyediakan perangkat kalorimeter sederhana ,mengisinya dengan NaOH lalu HCL,mengaduk,mengukur,suhu yang konstan dan mencatatnya.
3.      Mengisi table pengamatan.















BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Hasil Pengamatan
TABEL PENGAMATAN

ð  Termokimia

Larutan
Keadaan
Hasil
NaOH 0,1 M + H2O
Hangat
Eksoterm


ð  Kalorimeter

Temperatur Awal
Temperatur Akhir
Selisih Temperatur
CH3COOH= -0,2 0C

(T) = T2-T1
NaOH 1 M= -0,2 0C
Hd + NaOH(T2)=0,2 0C
=0,2-0 0C
Ti (rata-rata)= 0 0C

=0,2 0C

4.2 Analisis Data

Hasil penelitian di atas pada termokimia pada larutan NaOH 0,1 M + H2O dalam keadaan hangat (eksoterm),
pada kalori meter pada larutan CH3COOH memiliki temperatur awal -0,8 oc dan pada NaOH 1M temperatur awalnya yaitu +0,3 oc.setelah itu hasil masing-masing larutan tersebut dikurangkan seperti rumus : ∆T=T2-T1
BAB V
PENUTUP

5.1   Kesimpulan
  • Semakin tinggi suhu maka semakin besar tingkat kelarutannya.
  • Tekanan tidak berpengaruh besar terhadap kelarutan.
  • Digunakan garam sebagai penurun titik beku air serta meningkatkan titik didih air.
  • Eksoterm merupakan proses pelepasan kalor dari sistem ke lingkungan.
  • Endoterm ialah proses penyerapan kalor dari lingkungan ke sistem.
  • Percobaan entalpi pelarutan ini merupakan proses endoterm.

5.2    Saran
  • Selalu periksa kondisi alat sebelum melakukan percobaan guna mendapatkan hasil yang lebih akurat.
  • Selalu tingkatkan ketelitian dalam pengamatan untuk mendapatkan hasil yang optimal.
  • Ikuti petunjuk asisten dan buku penuntun untuk meminimalisasi kesalahan.








DAFTAR PUSTAKA
Alberty, Robert.A. 1991. Kimia Fisik. Jakarta : Erlangga.
Anonim. 2010. Asam Asetat. http://www.id.wikipedia.org/Asam-Asetat diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Hidroksida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Hidroksida diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Natrium Klorida. http://www.id.wikipedia.org/Natrium-Klorida diakses tanggal 22 oktober 2010.
Anonim. 2010. Pheolptealein. http://www.id.wikipedia.org/Phenolptealein diakses tanggal 22 oktober 2010.
Atkins, Pw. 1999. Kimia Fisika Jilid 1 edisi ke-4. Jakarta: Erlangga.
Brady, James. 1998. Kimia Universitas Asas dan Struktur. Jakarta : Bina Rupa Aksara.
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta: Jakarta.






Laporan Praktikum : Laju Reaksi


LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI LAJU REAKSI


OLEH
HARIANI ISMAIL
XI IPA A

SMAN 01 UNGGULAN KAMANRE




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Satuan jumlah zat bermacam- macam, misalnya gram, mol, atau konsentrasi. Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari, ataupun tahun. Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan satuan konsentrasi (molaritas). Dan  untuk mengetahui lebih jelasnya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi maka kita lakukan sebuah praktikum tentang laju reaksi.

1.2  Tujuan Percobaan
-      Untuk mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi










BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Laju Reaksi
·Konsentrasi
Pada umumnya, reaksi akan berlangsung lebih cepat jika konsentrasi pereaksi diperbesar. Zat yang konsentrasinya besar mengandung jumlah partikel yang lebih banyak, sehingga partikel-partikelnya tersusun lebih rapat dibanding zat yang konsentrasinya rendah. Partikel yang susunannya lebih rapat, akan lebih sering bertumbukan dibanding dengan partikel yang susunannya renggang, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi makin besar.
·   Luas Permukaan
Salah satu syarat agar reaksi dapat berlangsung adalah zat-zat pereaksi harus bercampur atau bersentuhan. Pada campuran pereaksi yang heterogen, reaksi hanya terjadi pada bidang batas campuran. Bidang batas campuran inilah yang dimaksud dengan bidang sentuh. Dengan memperbesar luas bidang sentuh, reaksi akan berlangsung lebih cepat.
·   Temperatur
Setiap partikel selalu bergerak. Dengan menaikkan temperatur, energi gerak atau energi kinetik partikel bertambah, sehingga tumbukan lebih sering terjadi. Dengan frekuensi tumbukan yang semakin besar, maka kemungkinan terjadinya tumbukan efektif yang mampu menghasilkan reaksi juga semakin besar. Suhu atau temperatur ternyata juga memperbesar energi potensial suatu zat. Zat-zat yang energi potensialnya kecil, jika bertumbukan akan sukar menghasilkan tumbukan efektif. Hal ini terjadi karena zat-zat tersebut tidak mampu melampaui energi aktivasi. Dengan menaikkan suhu, maka hal ini akan memperbesar energi potensial, sehingga ketika bertumbukan akan menghasilkan reaksi.
·   Katalis
Katalis adalah suatu zat yang berfungsi mempercepat terjadinya reaksi, tetapi pada akhir reaksi dapat diperoleh kembali. Fungsi katalis adalah menurunkan energi aktivasi, sehingga jika ke dalam suatu reaksi ditambahkan katalis, maka reaksi akan lebih mudah terjadi. Hal ini disebabkan karena zat-zat yang bereaksi akan lebih mudah melampaui energi aktivasi.













BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum dilaksanakan di Laboratorium Biologi SMAN 01 Unggulan Kamanre pada tanggal 06 November 2011.

3.2  Alat dan Bahan Praktikum
J  3 aqua gelas kosong
J  3 aqua gelas berisi air
J  Air dingin
J  Garam halus
J  Garam kasar
J  Cuka
J  Pengaduk
J  Stopwatch atau jam

3.3  Cara Kerja
  • Percobaan I (Konsentrasi)
1.      Siapkan 2 gelas aqua yang telah berisi larutan ,gelas pertama berisi larutan H2O dan yang gelas kedua berisi larutan cuka.
2.      Kemudian masukkan 1 sendok garam halus pada masing-masing gelas tersebut.
3.      Aduklah, mana yang cepat larut larutan yang encer atau pekat. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.

·         Percobaan II (suhu)
1.      Siapkan 2 gelas aqua yang berisi air normal dan yang satunya berisi air dingin.
2.      Berikan 1 sendok garam halus ,pada masing-masing gelas tersebut.
3.      Kemudian aduk dan amati mana yang lebih cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam
·         Percobaan III (Luas permukaan zat)
1.Siapkan 2 gelas aqua yang berisi air normal.
2.Masukkan 1 sendok garam kasar kedalam  gelas aqua tersebut dan 1 sendok garam halus pada aqua gelas kedua.
3.Kemudian amati, mana yang cepat larut. Dengan menggunakan stopwatch atau jam.
·         Percobaan IV (KATALIS)
1.      Siapkan 2 buah pisang yang masih muda.
2.      Kemudian pisang yang satu bungkus dengan kantong plastik.dan yang satunya tidak.
3.      Pada pisang yang dibungkus dengan kantong plastik masukkan sedikit karbit,dan yang satunya tidak.
4.      Amati beberapa hari,pisang mana yang cepat kuning.







BAB IV
PEMBAHASAN
4.1       Hasil Pengamatan

TABEL PENGAMATAN
No
Faktor yang mempengaruhi laju reaksi
Bahan
Hasil
1.
Konsentrasi
-  Pekat(larutan cuka) + garam halus
-  Encer (larutan cuka + air) + garam halus
-   23 detik


-   50 detik.
2.
Suhu
-  Gelas berisi air normal + garam halus
-  Gelas berisi air dingin + garam halus
-    23 detik


-    50 detik
  3.
Luas Permukaan
-  Air normal + garam halus
-  Air dingin + garam kasar
-    32 detik

-    80 detik





-      Katalis


No.
Jenis pisang
Kuning
Tak kuning
Waktu
1.
Karbit
Ø   
 -
1 hari
2.
Tak karbit
-
Ø   
3 hari


4.2  Analisis Data
·         Suhu, pada larutan air normal + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan air dingin + garam halus dengan waktu 50 detik.
·         Konsentrasi pada larutan Pekat (larutan cuka) + garam halus dengan waktu 23 detik, pada larutan Encer (larutan cuka + air) + garam halus dengan waktu 50 detik.
·         Luas permukaan zat pada larutan Garam halus + air normal dengan waktu 32 detik, pada larutan Garam kasar + air normal dengan waktu 80 detik.
·         Katalis , pada pisang yang diberi karbit pisang akan bisa kuning hanya 1 hari sedangkan pisang yang tidak diberi karbit tidak kuning, pisang yang tidak diberi karbit hanya bisa kuning pada saat 3 hari.









BAB V
PENUTUP
5.1   Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang dilakukan, larutan cuka (cuka pekat) yang dicampurkan dengan garam halus mengalami pelarutan yang sangat cepat dibandingkan dengan larutan cuka yang dicampurkan dengan air (cuka encer).

5.1    Saran
         Didalam melakukan praktikum sebaiknya siwa – siswi menggunakan pakaian praktikum dan sebaiknya sekolah menyediakan alat – alat praktikum yang lebih lengkap agar praktikum dapat dilakukan dengan lebih baik.












DAFTAR PUSTAKA