Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XII. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Meringkas Informasi Dari Koran


MAKASSAR, BKM- siapa yang menyangka kalau para pekerja pengepakan ikan harus menahan dingin dan beresiko tinggi. Setiap hari mereka berada di dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi.
            Tidak tanggung-tanggung mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun.
            Betapa tidak perusahaan pengepakan ikan yang berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA) ini hanya memiliki tenaga manual. Ironisnya, para pekerja di perusahaan tersebut tidak mendapat jaminan kesehatan.
            “Sepuluh tahun saya bekerja di sini. Saya bagian pengawetan ikan. Setiap hari berada di dalam ruangan dingin, kadang saya menggigil dan sudah beberapa kali sakit karena kedinginan,” kata Ira (30), salah seorang karyawan di perusahaan pengepakan ikan di KIMA.
            Warga asal Bulukumba ini menuturkan, pekerjaannya itu sangat beresiko, sudah banyak karyawan yang sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya.
            “Bagaimana tidak sakit, setiap hari kami berada dalam lemari es, tempat pengawetan ikan,’ ujarnya.
            (R4/C)


Ide-ide pokok berita
-          Setiap hari pekerja pengepakan ikan berada dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi.
-          Mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun
-          Para pekerja tidak memiliki jaminan kesehatan
-          Banyak karyawan yang sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya.

Ringkasan berita
            Di Makassar, setiap hari para pekerja pengepakan ikan berada di dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi. Sementara mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun. Terlebih lagi mereka tidak memiliki jaminan kesehatan, akibatnya banyak karyawan yang jatuh sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya. 

Puisi Kontemporer


Puisi Kontemporer Di Indonesia
Dunia senantiasa berkembang, berubah dari waktu ke waktu. Hidup pun demikinan . Sastra yang merupakan salah satu blantik perekaman kehidupan selalu mencari bentuk yang lebih baru . Hal ini pun sejalan dengan sifat seniman yang selalu ingin menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda dengan sesuatu yang telah ada sebelumnya.
Puisi sebagai bagian dari sastra juga mengalami perkembangan, dari segi bentuk dan nafasnya. Dalam zaman sastra lama Indonesia kita mengenal bentuk-bentuk seperti mantra, bidal,pantun, syair yang kemudian muncul bentuk-bentuk puisi baru pada tahun 1930-an m misalnya saja sonata,kwatren,terzina,stanza,dan sebagainya. Pada tahun 1045 an dengan khairir anwar sebagai penyair garda depan saat itu memproklamasikan bentuk puisi yang lebih baru yang sering kita kenal dengan bentuk puisi bebas. Lalu pada tahun 1973 kita dikagetkan dengan munculnya puisi-puisi dengan bentuknya yang aneh dan ganjil menurut ukuran Indonesia. Puisi Kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi iti sendiri. Misalnya saja Sutardji mulai tidak mempercayaik Kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada Eksistensi bunyi dan kekuatannya. Danarto justru memulai dengan kekuatan garis dalam menciptakan puisi. Puisi kontemporer memang cenderung berbentuk aneh dan ganjil. Di samping Sutardji dan Danarto, juga Sapardi Djoko Damono, penyair lain mencanangkan bentuk puisi ganjil adalah : Ibrahim Sattah, Hamid Jabar, Husni Jamaluddin, Noorca Marendra, dan sebagainya.
Lebih jauh boleh dikatakan bahwa puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa,memakai kata-kata makian kasar,ejekan,dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi,gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Puisi kontemporer dapat dibedakan menjadi :
1.Puisi Mbeling
Puisi ini memakai ungkapan yang blak-blakan, sederhana, tanpa menghiraukan diksi konvensional ataupun bunga-bunga bahasa. Biasanya mrngungkapkan kritik pada kehidupan masyarakat, tetapi dengan cara yang lucu dan tak brusaha terlampau berat.
2. Puisi tipografi
Puisi tipografi adalah puisi yang lebih mementingkan gambaran visual dari puisi tersebut. Dalam puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya di samping melalui kata-kata tentunya.
3. Puisi Yang menentang idiom-idiom
Puisi –puisi semacam ini akan bersifat konvensional. Dengan menentang idiom konvensional maka puisi tersebut tidak lagi menghiraukan hubungan makna setiap kata, bahkan sering terjadi menjungkir balikkan hubungan makna tersebut.
4. Puisi yang membalik-balikkan struktur kata
Puisi ini mterliha mempermainkan suku-suku kata . Sampai-sampai kata-kata itu menjadi tidak bermakna .Tetapi hal itu tidak lantas menghilangkan makna totalitas puisi tersebut . Bahkan terasa menjadi sangat konkret. Dengan deretan kata yang dibolak-balikan susunan suku katanya bila diteriakkan keras-keras seperti teriakan nelayan di zaman bahari dulu . Bunyi-bunyi yang muncul dari kata-kata tak bermakna itu mengangkat imajinasi kita untuk membayangkan situasi pada masa bahari dulu, di mana nenek moyang kita sangat akrab dengan lautan.
5. Puisi yang lebih mengutamakan unsure bunyi
Puisi ini mengingatkan kita pada bentuk puisi mantra pada zaman sastra purba. Puisi mantar pun amat menonjolkan kekuatan bunyi. Bahkan menurut hemat nenek moyang kita dulu semakin kuat bunyi dalam mantara semakin tinggi nilai magis yang terkandung dalam mantra tersebut. Dan ternyata dalam perkembangan sastra Indonesia moderen,ada kencenderungan kembali pada bentuk mantra. Penyair garda depan yang memproklamasikan bentuk mantra ini adalan Sutardji dan ibrahim Sattah.
6. Puisi yang mengkombinasikan bentuk bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa daerah
Puisi ini menggunakan berbagai bahasa dalam mengungkapkan aspa yang dimaksudkannya. Tentu saja hal ini mempersulit pemahaman pembaca yang tidak mengerti dan menguasai bahasa asing maupun bahasa daerah.
7. Puisi yang banyak menggunakan symbol daripada kata –kata atau kalimat.
Simaklah puisi Jeihan berikut ini
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
V
VIVA PANCASILA
( Jeihan )
8. Puisi yang lebih menonjolkan unsure garis atau gambar seperti dalam seni lukis
Perhatikanlah puisi yang cukup membikin heboh kalangan sastrawan di Indone-
Sia :
9. Puisi Konkret
Puisi konkret benar-benar merupakan penyair yang tidak lagi percaya terhadap eksistensi kata. Puisi konkret berusaha meninggalkan peranan kata karena kata dianggapnya terlampau akrab untuk mewadahi penyair. Puisi konkret merupakan puisi yang diciptakan oleh penyair dengan memakai benda-benda yang konkret ( biasanya dengan sedikit mungkin kata , bahkan kalau perlu kata itu dihilangkan) sebagai alat ekspresinya . Misalnya saja puisi Daging Mentah Sutardji Calzoum Bachri, atau puisi Abdul Hadi WM.
Ciri-cirinya puisi kontemporer:
  • bentuknya itu pasti tidak seperti puisi biasa
  • pada umumnya bertemakan kritikan
  • maknanya sangat sulit ditangkap
  • sering sekali mempermainkan kata di dalamnya
1. Mengidentifikasi tema puisi kontemporer
Perhatikan beberapa puisi Sapardi Djoko Darmono yang termuat dalam buku Duka-Mu Abadi berikut !
(a) SAAT SEBELUM BERANGKAT
mengapa kita masih bercakap
hari hampir gelap
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga
Di ruang semakin maya, dunia purnama
Sampai tak ada yang sempat bertanya
Mengapa musim tiba-tiba reda
Kita di mana . Waktu seorang tertahan di sini
Di luar pengiring jenazah menanti
(b) BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH
berjalan dibelakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping pohon demi pohon menundukkan kepala
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
(c) SEHABIS MENGANTAR JENAZAH
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu ! Hujan pun selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habis bercakap
di bawah bunga-bunga mawar, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan , tertutup
anak-anak kembali bermain di jalan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tahu dalam tanda tanya
masih adakah ? alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya,, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Dalam tiga puisi Sapadi Joko Damono yang terdapat dalam buku kumpulan puisi Dukamu Mu Abadi terdapat pertautan tema yang membicarakan tentang maut . Sapardi Joko Damono telah membangkitkan kesadaran pembaca akan kematian dan selubung rahasia akan kematian itu sendiri.
2. Memahami isi dan maksud puisi kontemporer
Perhatikanlah contoh-contoh sajak Sutardji Calzoum Bachri berikut ini !
SOLITUDE
yang paling mawar
yang paling duri
yang paling sayap
yang paling bumi
yang paling pisau
yang paling risau
yang paling nancap
yang paling dekap
samping yang paling
Kau ! ( 1981:37 )
“ yang paling mawar “, artinya yang paling mempunyai sifat-sifat seperti mawar, yaitu biasanya warnanya merah cemerlang, menarik, indah dan harum . Jadi kesunyian ( solitude ) itu mempunyai sifat yang paling menarik , indah, serta harum . “yang paling duri” artinya paling menusuk, menyakitkan, menghalangi, seperti duri. ”yang paling dekap” ialah yang paling mesra seperti orang mendekap. Begitulah kesunyian itu. Dan di samping sifat yang paling itu adalah “Kau“ yaitu Tuhan . Jadi, bila orang dalam keadaan yang paling itu, orang akan teringat atau melihat “ Tuhan “ .
perhatikan contoh lain sajak Sutarji Calzoum Bachri
TRAGEDI WINKA & SIHKA
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
shika
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
( h. 18 )
Sajak tersebut hanya terdiri dua kata “kawin dan kasih” yang dipotong-potong menjadi suku kata-suku kata, juga dibalik menjadi “winka dan sihka” . Pada awalnya kata kawin masih penuh, artinya masih penuh kawin memberi konotasi begitu indahnya perkawinan. Orang yang hendak kawin mesti berangan-angan yang indah bahwa sesudah kawin akan hidup berbahagia, ada suami atau istri dan kemudian akan ada anak, hidup akan bahagia denga kasih saying anak, istri-suami. Tetapi, melalui perjalanan waktu kata kawin terpotong menjadi ka dan win, artinya tidak penuh lagi. Angan-angan perkawinan semula terpotong-potong, ternyata kenyataan setelah kawin berubah. Dalam perkawinan orang harus memberi nafkah, ada kewajiban-kewajiban. Ada anak yang harus dibiayai, bahkan sering terjadi pertengkaran suami-istri, harus membiayai makan, pakaian dan sekolah anak-anak . Ternyata perkawinan itu tidak seperti diharapkan yang penuh dengan kebahagiaan, segala berjalan lancar, tetapi penuh kesukaran. Terbalik artinya kawin jadi winka, kasih pun terpotong-potong menjadi ka dan sih yang kehilangan artinya menjadi : sih-sih-sih-sih-sih saja, bahkan istri atau suami menyeleweng terjadilah perceraian. Nah, terjadilah tragedi winka dan sihka, kembalikan dari angan-angan kawin dan kasih, yang pada mulanya diangankan akan penuh kebahagiaan.
SEPISAUPI
Sepisau luka sepisau duri
Sepikul dosa sepukau sepi
Sepisau duka sepisau duri
Sepisau sepi sepisau nyanyi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisapanya sepikau sepi
Sepisaupa sepisaupi
Sepikuldiri sekeranjang duri
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sampai pisaunya kedalam nyanyi
( Sutardji Calzoum Bachri)



Puisi Mbeling (Kontemporer)
Puisi Mbeling (Kontemporer)adalah jenis puisi yang relatif sulit untuk dipahami. Seringkali memanfaatkan kata kata biasa, mengintensifkan tipografi, minim kata kata, bahasanya humor. Puisi ini seringkali tidak terikat oleh beberapa kaidah puisi baru dan konvensional. Berikut contoh Puisi Mbeling:

Wakil Rakyat


wa ======== ha
kil ======= rus
wa ======= ha
kil ======= rus
wa ======= ha
kil == wa == rus == rak
wa == kil == ha == yat
kil == wa == rus == rak
rakyat === mikir mikir mikir
==== kil ==== yat
==== rak ==== rak
==== yat ==== yat

Puisi Kontemporer
 Jenis puisi ini masih termasuk puisi prismatis.Bedanya, bila puisi prismatis masihmementingkan kata sebagai penyampaimaksud atau ide penyairnya, maka puisikontemporer bukanlah arti yang ingindisampaikan penyair, melainkan kesan yangditimbulkan oleh puisi tersebut.Puisi kontemporer ingin menciptakankomunikasi estetik bukan pemahamanKata-kata dalam puisi kontemporer tidak lagidibebani oleh arti atau makna, melainkandibiarkan merdeka menciptakan kesan sesuaipembaca
puisi kontemporer. Puisi jenis ini memilikikekhasan dalam segi bentuk danpenggunaan diksinya. Puisi kontemporersering disebut dengan puisi yang “lari” darikonvensional. Dalam hal ini, segi bentuk puisi ini pun cenderung aneh. Penggunaankata-katanya seringkali memakai kataejekan, makian, atau sindiran.Perhatikan puisi berikut.

Di
Di
Betul
kau pasti
sedang menghitung berapa nasib lagi tinggal
sebelum fajar terakhir kau tutup
tanpa seorang pun tahu siapa kau dan
di
kau
maka kini
lengkaplah sudah
perhitungan di luar akal
dan angan-angan di dalam hati kita
tentang sesuatu yang tak bisa siapa pun
menerangkan
 katakan pada saat itu kau mungkin sedang
dibetulkan?(Noorca Marendra)

 


Unsur-Unsur Pada Novel



Novel            :       Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy
Penerbit       :       Basmala REPUBLIKA
Cetakan        :       Cetakan Pertama, Desember 2004
Tebal Buku   :       419 Halaman
A.     Sinopsis
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi naik-turunnya persoalan hidup dengan cara Islami. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Berhadapan dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias kecuali satu, menikah.
Fahri adalah seorang laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan makhluk bernama perempuan. Hanya sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Nenek, Ibu dan saudara perempuannya.
Pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur'an. Dan ia mengagumi Fahri. Kekagumannya berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diarinya saja.
Lalu ada Nurul, anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apapun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak perasaan Fahri terhadapnya.
Setelah itu ada Noura, Juga tetangga yang selalu disiksa oleh ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh kepada Noura dan ingin menolongnya. Ia hanya empati saja, tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisyah. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisyah jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak dapat untuk membohongi hatinya.

B. Unsur-unsur Intrinsik Pada Novel Ayat-Ayat Cinta.
a. Tema
Perjuangan dalam melawan ketidakadilan.
b. Tokoh
Tokoh utama : Fahri, Nurul, Maria, Aisyah, Noura
Tokoh Pembantu :
Saeful, Rudi, Hamdi, Tuan Boutros ( ayah Maria ), Nahed ( Ibu Maria ), Syaikh Usman ( Guru Besar Fahri ), Syaikh Ahmad ( Dosen Fahri di Al-Azhar ), Ustad Jalal ( Paman Nurul ) dan istrinya, Eqbal dan Istrinya ( Paman dan bibi Aisyah ), Amru ( Pengacara ), Magdi ( polisi ), Bahadur dan Kakak Noura, adik-adik Maria.
C. Plot / Alur : Alur maju
1.         Perkenalan :
Fahri mengenyam berpendidikan di Universitas Al-Azhar dan tinggal di flat bersama rekan mahasiswa dari Indonesia, kemudian kenal dengan tetangga dekatnya yaitu Maria sekeluarga. Serta menjalankan perkuliahan sebagaimana mestinya. Mengenal orang-orang Mesir diantaranya Syaikh Usman, Syaikh Ahmad dan tak lupa teman teman aktifis dari Mesir juga teman sepermainan Fahri pada saat bermain bola.
2.      Pertikaian :
Dimulai pada saat malam hari. Ada seorang gadis yang disiksa dan ternyata gadis itu adalah Noura, dia disiksa dibawah dekat flat Fahri dan siksaan itu terdengar oleh Fahri, dia mau menolongnya, namun ia tidak dapat melakukannya karena Noura adalah seorang perempuan. kemudian Fahri meminta Maria untuk menolong Noura. Walaupun Maria takut oleh Bahadur, ayah Noura, dia memberanikan diri dan akhirnya Noura tertolong. Setelah itu, Noura dititipkan kepada Nurul.
Adapun pertikaian pada saat Fahri pulang dari Alexsandria, berbulan madu bersama Aisyah. Ia ditangkap karena dituduh memperkosa Noura. Fahri tidak sempat menjelaskan pada Istrinya Aisyah. Kemudian, adapula pertentangan sengit pada saat Fahri sedang diadili dengan adanya kesaksian Noura yang mengaku telah diperkosa oleh Fahri pada saat menolongnya. Namun Fahri tidak merasa melakukan hal keji tersebut, akhirnya rasa kecewa pun muncul akibat Noura yang telah memfitnahnya.
3.      Klimaks :
Fahri dipenjara atas tuduhan pemerkosaan dan disiksa habis-habisan,  disana Fahri mengalami kesedihan yang luar biasa. Ia disiksa dan dipenjara dibawah tanah, sedangkan Aisyah sedang mengalami hamil dan juga bulan tersebut adalah bulan Ramadhan yang mana Fahri dan Aisyah berencana untuk Umroh. Hal tersebut merupakan hal yang dinantikan oleh mereka berdua, tapi malah sebaliknya mereka mengalami cobaan yang beruntun. Pada saat persidangan, Fahri dituduh habis-habisan oleh pengaduan Noura dan salah seorang saksi yang melihat kejadian itu, memperkuat dugaan bahwa Fahri bersalah. Keputusan itu membuatnya akan dihukum mati. Fahri tidak mempunyai bukti bahwa ia tidak bersalah, kecuali salah satu kunci utama dalam memecahkan kasus ini adalah Maria sebagai saksi yang dapat membebaskan fahri dapat memberikan kesaksiannya, sedangkan pada saat ini Maria sedang terbaring koma.
4.      Peleraian :
Akhirnya, jalan satu-satunya Fahri terpaksa menikahi Maria yang terbaring koma, dengan alasan ia akan sembuh apabila disentuh oleh Fahri. Fahri tertekan akan beberapa hal ini termasuk dari Aisyah dan orang tua Maria. Maria merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Fahri galau dan merasa sangat bertanggung jawab atas Aisyah yang sedang mengandung.
 Aisyah ingin agar Fahri segera terbebas dan ia ingin pada saat melahirkan anaknya Fahri hadir disisinya. Aisyah pun berkeputusan mengijinkan Fahri menikahi Maria secepatnya. Fahri pun menikahi Maria. Maria sembuh dengan sentuhan Fahri. Di persidangan, walaupun dia masih duduk dengan bantuan kursi roda, ia tetap menjadi saksi kunci kasus Fahri Dengan Noura. Dan akhirnya, kebenaran selalu menang. Fahri Bebas . Naura pun mengakui bahwa semua yang dikatakannya itu bohong. Smua itu ia lakukan karena ia mencintai Fahri. Sedangkan saksi yang melihat itu merupakan saksi palsu.
5.      Akhir :
Fahri memiliki 2 orang istri yang sholeh, Aisyah dan Maria. Kondisi Maria belum pulih dan setelah dari persidangan, ia dirawat kembali di rumah sakit. Pada saat ia dirawat ada keanehan yang terjadi, Maria tertidur dan bermimpi tiba di 7 pintu surga, ia ingin masuk karena mencium kenikmatannya, ia diperbolehkan masuk sampai pintu keenam dan pintu terakhir dia boleh masuk tapi dengan syarat ia harus berwudhu dan bersyahadat, kemudian Maria meminta izin kembali untuk memenuhi persyaratan agar bisa melewati pintu ke 7 . Maria terbangun dari mimpinya. Dihadapannya telah ada Fahri dan Aisyah, ia meminta untuk diajari melakukan wudlu dan syahadat. Setelah itu, diwudhukannya dirinya. kemudian ia bercerita kejadian di dalam mimpinya, Maria pun meminta Fahri dan Aisyah untuk mengajarinya syahadat. Pada saat selesai bersyahadat, perlahan-lahan Maria menutup matanya. Ternyata,  Maria telah meninggal dengan diakhiri Dua Kalimat Syahadat, ada pesan yang ditinggalkannya ketika berbicara kepada Fahri dan Aisyah, ia akan menunggu Fahri di sorga Firdaus untuk memadu cinta dan kasih.
d. Perwatakan :
  1. Fahri    :     Rajin, pintar, sabar, terencana, tepat waktu, ikhlas, ulet, penolong, sholeh, aktifis, adil dalam memimpin, lurus, dan penuh dengan target.                          
  2. Nurul   :     Rajin, Pintar, Pemalu, tidak terbuka, kaku, emosi, dan sholeh.
  3. Maria  :     Ceria, suka bergurau, rajin, pintar tapi fisiknya lemah, manja, dan tertutup.
  4. Aisyah :     Orangnya lembut, sabar, ikhlas, terencana, pintar, dan sholeh.
  5. Noura :     Orangnya tertutup, sulit di tebak, pintar, egois, emosional, dan pendiam.
e. Setting / latar :
Mesir Kairo Al-azhar ( Negara Mesir Benua Afrika ), flat, mesjid, restoran, Metro, penjara, Rumah sakit, Alexsandria.
f. Pusat Pengisahan :
Tokoh utama menuturkan ceritanya sendiri.
g. Amanat :
  1. Dalam merencanakan sesuatu pasti akan ada halangan dan rintangan yang menghadang tujuan yang hendak dicapai. Perjalanan itu tidak selalu akan berjalan mulus.
  2. Semakin banyak ilmu / pengetahuan yang diterima atau didapat,  semakin banyak pula hambatan dan godaan yang harus dilewati. Semua itu harus dipecahkan dengan hati yang sabar. Namun,  yakinlah bahwa semua itu akan ada hikmahnya.
h. Sudut Pandang : Aku sebagai orang pertama.
i. Gaya Penulisan : Khas,unik, penuh dengan nuansa religi, penuh dengan romansa cinta.


Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa Indonesia XII. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 April 2012

Meringkas Informasi Dari Koran


MAKASSAR, BKM- siapa yang menyangka kalau para pekerja pengepakan ikan harus menahan dingin dan beresiko tinggi. Setiap hari mereka berada di dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi.
            Tidak tanggung-tanggung mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun.
            Betapa tidak perusahaan pengepakan ikan yang berada di Kawasan Industri Makassar (KIMA) ini hanya memiliki tenaga manual. Ironisnya, para pekerja di perusahaan tersebut tidak mendapat jaminan kesehatan.
            “Sepuluh tahun saya bekerja di sini. Saya bagian pengawetan ikan. Setiap hari berada di dalam ruangan dingin, kadang saya menggigil dan sudah beberapa kali sakit karena kedinginan,” kata Ira (30), salah seorang karyawan di perusahaan pengepakan ikan di KIMA.
            Warga asal Bulukumba ini menuturkan, pekerjaannya itu sangat beresiko, sudah banyak karyawan yang sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya.
            “Bagaimana tidak sakit, setiap hari kami berada dalam lemari es, tempat pengawetan ikan,’ ujarnya.
            (R4/C)


Ide-ide pokok berita
-          Setiap hari pekerja pengepakan ikan berada dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi.
-          Mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun
-          Para pekerja tidak memiliki jaminan kesehatan
-          Banyak karyawan yang sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya.

Ringkasan berita
            Di Makassar, setiap hari para pekerja pengepakan ikan berada di dalam ruangan pengawet ikan dengan suhu dingin yang cukup tinggi. Sementara mereka harus siap menanggung cacat tubuh, bahkan mati sekalipun. Terlebih lagi mereka tidak memiliki jaminan kesehatan, akibatnya banyak karyawan yang jatuh sakit dan tidak mampu melanjutkan pekerjaannya. 

Puisi Kontemporer


Puisi Kontemporer Di Indonesia
Dunia senantiasa berkembang, berubah dari waktu ke waktu. Hidup pun demikinan . Sastra yang merupakan salah satu blantik perekaman kehidupan selalu mencari bentuk yang lebih baru . Hal ini pun sejalan dengan sifat seniman yang selalu ingin menciptakan sesuatu yang baru, yang berbeda dengan sesuatu yang telah ada sebelumnya.
Puisi sebagai bagian dari sastra juga mengalami perkembangan, dari segi bentuk dan nafasnya. Dalam zaman sastra lama Indonesia kita mengenal bentuk-bentuk seperti mantra, bidal,pantun, syair yang kemudian muncul bentuk-bentuk puisi baru pada tahun 1930-an m misalnya saja sonata,kwatren,terzina,stanza,dan sebagainya. Pada tahun 1045 an dengan khairir anwar sebagai penyair garda depan saat itu memproklamasikan bentuk puisi yang lebih baru yang sering kita kenal dengan bentuk puisi bebas. Lalu pada tahun 1973 kita dikagetkan dengan munculnya puisi-puisi dengan bentuknya yang aneh dan ganjil menurut ukuran Indonesia. Puisi Kontemporer adalah bentuk puisi yang berusaha lari dari ikatan konvensional puisi iti sendiri. Misalnya saja Sutardji mulai tidak mempercayaik Kekuatan kata tetapi dia mulai berpaling pada Eksistensi bunyi dan kekuatannya. Danarto justru memulai dengan kekuatan garis dalam menciptakan puisi. Puisi kontemporer memang cenderung berbentuk aneh dan ganjil. Di samping Sutardji dan Danarto, juga Sapardi Djoko Damono, penyair lain mencanangkan bentuk puisi ganjil adalah : Ibrahim Sattah, Hamid Jabar, Husni Jamaluddin, Noorca Marendra, dan sebagainya.
Lebih jauh boleh dikatakan bahwa puisi kontemporer seringkali memakai kata-kata yang kurang memperhatikan santun bahasa,memakai kata-kata makian kasar,ejekan,dan lain-lain. Pemakaian kata-kata simbolik atau lambing intuisi,gaya bahasa, irama, dan sebagainya dianggapnya tidak begitu penting lagi.
Puisi kontemporer dapat dibedakan menjadi :
1.Puisi Mbeling
Puisi ini memakai ungkapan yang blak-blakan, sederhana, tanpa menghiraukan diksi konvensional ataupun bunga-bunga bahasa. Biasanya mrngungkapkan kritik pada kehidupan masyarakat, tetapi dengan cara yang lucu dan tak brusaha terlampau berat.
2. Puisi tipografi
Puisi tipografi adalah puisi yang lebih mementingkan gambaran visual dari puisi tersebut. Dalam puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya di samping melalui kata-kata tentunya.
3. Puisi Yang menentang idiom-idiom
Puisi –puisi semacam ini akan bersifat konvensional. Dengan menentang idiom konvensional maka puisi tersebut tidak lagi menghiraukan hubungan makna setiap kata, bahkan sering terjadi menjungkir balikkan hubungan makna tersebut.
4. Puisi yang membalik-balikkan struktur kata
Puisi ini mterliha mempermainkan suku-suku kata . Sampai-sampai kata-kata itu menjadi tidak bermakna .Tetapi hal itu tidak lantas menghilangkan makna totalitas puisi tersebut . Bahkan terasa menjadi sangat konkret. Dengan deretan kata yang dibolak-balikan susunan suku katanya bila diteriakkan keras-keras seperti teriakan nelayan di zaman bahari dulu . Bunyi-bunyi yang muncul dari kata-kata tak bermakna itu mengangkat imajinasi kita untuk membayangkan situasi pada masa bahari dulu, di mana nenek moyang kita sangat akrab dengan lautan.
5. Puisi yang lebih mengutamakan unsure bunyi
Puisi ini mengingatkan kita pada bentuk puisi mantra pada zaman sastra purba. Puisi mantar pun amat menonjolkan kekuatan bunyi. Bahkan menurut hemat nenek moyang kita dulu semakin kuat bunyi dalam mantara semakin tinggi nilai magis yang terkandung dalam mantra tersebut. Dan ternyata dalam perkembangan sastra Indonesia moderen,ada kencenderungan kembali pada bentuk mantra. Penyair garda depan yang memproklamasikan bentuk mantra ini adalan Sutardji dan ibrahim Sattah.
6. Puisi yang mengkombinasikan bentuk bahasa Indonesia dengan bahasa asing atau bahasa daerah
Puisi ini menggunakan berbagai bahasa dalam mengungkapkan aspa yang dimaksudkannya. Tentu saja hal ini mempersulit pemahaman pembaca yang tidak mengerti dan menguasai bahasa asing maupun bahasa daerah.
7. Puisi yang banyak menggunakan symbol daripada kata –kata atau kalimat.
Simaklah puisi Jeihan berikut ini
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
V
VIVA PANCASILA
( Jeihan )
8. Puisi yang lebih menonjolkan unsure garis atau gambar seperti dalam seni lukis
Perhatikanlah puisi yang cukup membikin heboh kalangan sastrawan di Indone-
Sia :
9. Puisi Konkret
Puisi konkret benar-benar merupakan penyair yang tidak lagi percaya terhadap eksistensi kata. Puisi konkret berusaha meninggalkan peranan kata karena kata dianggapnya terlampau akrab untuk mewadahi penyair. Puisi konkret merupakan puisi yang diciptakan oleh penyair dengan memakai benda-benda yang konkret ( biasanya dengan sedikit mungkin kata , bahkan kalau perlu kata itu dihilangkan) sebagai alat ekspresinya . Misalnya saja puisi Daging Mentah Sutardji Calzoum Bachri, atau puisi Abdul Hadi WM.
Ciri-cirinya puisi kontemporer:
  • bentuknya itu pasti tidak seperti puisi biasa
  • pada umumnya bertemakan kritikan
  • maknanya sangat sulit ditangkap
  • sering sekali mempermainkan kata di dalamnya
1. Mengidentifikasi tema puisi kontemporer
Perhatikan beberapa puisi Sapardi Djoko Darmono yang termuat dalam buku Duka-Mu Abadi berikut !
(a) SAAT SEBELUM BERANGKAT
mengapa kita masih bercakap
hari hampir gelap
Menyekap beribu kata di antara karangan bunga
Di ruang semakin maya, dunia purnama
Sampai tak ada yang sempat bertanya
Mengapa musim tiba-tiba reda
Kita di mana . Waktu seorang tertahan di sini
Di luar pengiring jenazah menanti
(b) BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH
berjalan dibelakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping pohon demi pohon menundukkan kepala
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
(c) SEHABIS MENGANTAR JENAZAH
masih adakah yang akan kautanyakan
tentang hal itu ! Hujan pun selesai
sewaktu tertimbun sebuah dunia yang tak habis bercakap
di bawah bunga-bunga mawar, musim yang senja
pulanglah dengan payung di tangan , tertutup
anak-anak kembali bermain di jalan basah
seperti dalam mimpi kuda-kuda meringkik di bukit-bukit jauh
barangkali kita tak perlu tahu dalam tanda tanya
masih adakah ? alangkah angkuhnya langit
alangkah angkuhnya pintu yang akan menerima kita
seluruhnya,, seluruhnya kecuali kenangan
pada sebuah gua yang menjadi sepi tiba-tiba
Dalam tiga puisi Sapadi Joko Damono yang terdapat dalam buku kumpulan puisi Dukamu Mu Abadi terdapat pertautan tema yang membicarakan tentang maut . Sapardi Joko Damono telah membangkitkan kesadaran pembaca akan kematian dan selubung rahasia akan kematian itu sendiri.
2. Memahami isi dan maksud puisi kontemporer
Perhatikanlah contoh-contoh sajak Sutardji Calzoum Bachri berikut ini !
SOLITUDE
yang paling mawar
yang paling duri
yang paling sayap
yang paling bumi
yang paling pisau
yang paling risau
yang paling nancap
yang paling dekap
samping yang paling
Kau ! ( 1981:37 )
“ yang paling mawar “, artinya yang paling mempunyai sifat-sifat seperti mawar, yaitu biasanya warnanya merah cemerlang, menarik, indah dan harum . Jadi kesunyian ( solitude ) itu mempunyai sifat yang paling menarik , indah, serta harum . “yang paling duri” artinya paling menusuk, menyakitkan, menghalangi, seperti duri. ”yang paling dekap” ialah yang paling mesra seperti orang mendekap. Begitulah kesunyian itu. Dan di samping sifat yang paling itu adalah “Kau“ yaitu Tuhan . Jadi, bila orang dalam keadaan yang paling itu, orang akan teringat atau melihat “ Tuhan “ .
perhatikan contoh lain sajak Sutarji Calzoum Bachri
TRAGEDI WINKA & SIHKA
kawin
kawin
kawin
kawin
kawin
ka
win
ka
win
ka
win
ka
win
ka
winka
winka
winka
shika
sihka
sihka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
ka
sih
sih
sih
sih
sih
sih
ka
Ku
( h. 18 )
Sajak tersebut hanya terdiri dua kata “kawin dan kasih” yang dipotong-potong menjadi suku kata-suku kata, juga dibalik menjadi “winka dan sihka” . Pada awalnya kata kawin masih penuh, artinya masih penuh kawin memberi konotasi begitu indahnya perkawinan. Orang yang hendak kawin mesti berangan-angan yang indah bahwa sesudah kawin akan hidup berbahagia, ada suami atau istri dan kemudian akan ada anak, hidup akan bahagia denga kasih saying anak, istri-suami. Tetapi, melalui perjalanan waktu kata kawin terpotong menjadi ka dan win, artinya tidak penuh lagi. Angan-angan perkawinan semula terpotong-potong, ternyata kenyataan setelah kawin berubah. Dalam perkawinan orang harus memberi nafkah, ada kewajiban-kewajiban. Ada anak yang harus dibiayai, bahkan sering terjadi pertengkaran suami-istri, harus membiayai makan, pakaian dan sekolah anak-anak . Ternyata perkawinan itu tidak seperti diharapkan yang penuh dengan kebahagiaan, segala berjalan lancar, tetapi penuh kesukaran. Terbalik artinya kawin jadi winka, kasih pun terpotong-potong menjadi ka dan sih yang kehilangan artinya menjadi : sih-sih-sih-sih-sih saja, bahkan istri atau suami menyeleweng terjadilah perceraian. Nah, terjadilah tragedi winka dan sihka, kembalikan dari angan-angan kawin dan kasih, yang pada mulanya diangankan akan penuh kebahagiaan.
SEPISAUPI
Sepisau luka sepisau duri
Sepikul dosa sepukau sepi
Sepisau duka sepisau duri
Sepisau sepi sepisau nyanyi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisapanya sepikau sepi
Sepisaupa sepisaupi
Sepikuldiri sekeranjang duri
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sepisaupa sepisaupi
Sampai pisaunya kedalam nyanyi
( Sutardji Calzoum Bachri)



Puisi Mbeling (Kontemporer)
Puisi Mbeling (Kontemporer)adalah jenis puisi yang relatif sulit untuk dipahami. Seringkali memanfaatkan kata kata biasa, mengintensifkan tipografi, minim kata kata, bahasanya humor. Puisi ini seringkali tidak terikat oleh beberapa kaidah puisi baru dan konvensional. Berikut contoh Puisi Mbeling:

Wakil Rakyat


wa ======== ha
kil ======= rus
wa ======= ha
kil ======= rus
wa ======= ha
kil == wa == rus == rak
wa == kil == ha == yat
kil == wa == rus == rak
rakyat === mikir mikir mikir
==== kil ==== yat
==== rak ==== rak
==== yat ==== yat

Puisi Kontemporer
 Jenis puisi ini masih termasuk puisi prismatis.Bedanya, bila puisi prismatis masihmementingkan kata sebagai penyampaimaksud atau ide penyairnya, maka puisikontemporer bukanlah arti yang ingindisampaikan penyair, melainkan kesan yangditimbulkan oleh puisi tersebut.Puisi kontemporer ingin menciptakankomunikasi estetik bukan pemahamanKata-kata dalam puisi kontemporer tidak lagidibebani oleh arti atau makna, melainkandibiarkan merdeka menciptakan kesan sesuaipembaca
puisi kontemporer. Puisi jenis ini memilikikekhasan dalam segi bentuk danpenggunaan diksinya. Puisi kontemporersering disebut dengan puisi yang “lari” darikonvensional. Dalam hal ini, segi bentuk puisi ini pun cenderung aneh. Penggunaankata-katanya seringkali memakai kataejekan, makian, atau sindiran.Perhatikan puisi berikut.

Di
Di
Betul
kau pasti
sedang menghitung berapa nasib lagi tinggal
sebelum fajar terakhir kau tutup
tanpa seorang pun tahu siapa kau dan
di
kau
maka kini
lengkaplah sudah
perhitungan di luar akal
dan angan-angan di dalam hati kita
tentang sesuatu yang tak bisa siapa pun
menerangkan
 katakan pada saat itu kau mungkin sedang
dibetulkan?(Noorca Marendra)

 


Unsur-Unsur Pada Novel



Novel            :       Ayat-ayat Cinta karangan Habiburrahman El Shirazy
Penerbit       :       Basmala REPUBLIKA
Cetakan        :       Cetakan Pertama, Desember 2004
Tebal Buku   :       419 Halaman
A.     Sinopsis
Ini adalah kisah cinta. Tapi bukan cuma sekedar kisah cinta yang biasa. Ini tentang bagaimana menghadapi naik-turunnya persoalan hidup dengan cara Islami. Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al-Azhar. Berhadapan dengan panas-debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Semua target dijalani Fahri dengan penuh antusias kecuali satu, menikah.
Fahri adalah seorang laki-laki taat yang begitu ‘lurus’. Dia tidak mengenal pacaran sebelum menikah. Dia kurang artikulatif saat berhadapan dengan makhluk bernama perempuan. Hanya sedikit perempuan yang dekat dengannya selama ini. Nenek, Ibu dan saudara perempuannya.
Pindah ke Mesir membuat hal itu berubah. Tersebutlah Maria Girgis. Tetangga satu flat yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al-Qur'an. Dan ia mengagumi Fahri. Kekagumannya berubah menjadi cinta. Sayang, cinta Maria hanya tercurah dalam diarinya saja.
Lalu ada Nurul, anak seorang kyai terkenal yang juga mengeruk ilmu di Al-Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apapun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak perasaan Fahri terhadapnya.
Setelah itu ada Noura, Juga tetangga yang selalu disiksa oleh ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh kepada Noura dan ingin menolongnya. Ia hanya empati saja, tidak lebih. Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Terakhir muncullah Aisyah. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisyah jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak dapat untuk membohongi hatinya.

B. Unsur-unsur Intrinsik Pada Novel Ayat-Ayat Cinta.
a. Tema
Perjuangan dalam melawan ketidakadilan.
b. Tokoh
Tokoh utama : Fahri, Nurul, Maria, Aisyah, Noura
Tokoh Pembantu :
Saeful, Rudi, Hamdi, Tuan Boutros ( ayah Maria ), Nahed ( Ibu Maria ), Syaikh Usman ( Guru Besar Fahri ), Syaikh Ahmad ( Dosen Fahri di Al-Azhar ), Ustad Jalal ( Paman Nurul ) dan istrinya, Eqbal dan Istrinya ( Paman dan bibi Aisyah ), Amru ( Pengacara ), Magdi ( polisi ), Bahadur dan Kakak Noura, adik-adik Maria.
C. Plot / Alur : Alur maju
1.         Perkenalan :
Fahri mengenyam berpendidikan di Universitas Al-Azhar dan tinggal di flat bersama rekan mahasiswa dari Indonesia, kemudian kenal dengan tetangga dekatnya yaitu Maria sekeluarga. Serta menjalankan perkuliahan sebagaimana mestinya. Mengenal orang-orang Mesir diantaranya Syaikh Usman, Syaikh Ahmad dan tak lupa teman teman aktifis dari Mesir juga teman sepermainan Fahri pada saat bermain bola.
2.      Pertikaian :
Dimulai pada saat malam hari. Ada seorang gadis yang disiksa dan ternyata gadis itu adalah Noura, dia disiksa dibawah dekat flat Fahri dan siksaan itu terdengar oleh Fahri, dia mau menolongnya, namun ia tidak dapat melakukannya karena Noura adalah seorang perempuan. kemudian Fahri meminta Maria untuk menolong Noura. Walaupun Maria takut oleh Bahadur, ayah Noura, dia memberanikan diri dan akhirnya Noura tertolong. Setelah itu, Noura dititipkan kepada Nurul.
Adapun pertikaian pada saat Fahri pulang dari Alexsandria, berbulan madu bersama Aisyah. Ia ditangkap karena dituduh memperkosa Noura. Fahri tidak sempat menjelaskan pada Istrinya Aisyah. Kemudian, adapula pertentangan sengit pada saat Fahri sedang diadili dengan adanya kesaksian Noura yang mengaku telah diperkosa oleh Fahri pada saat menolongnya. Namun Fahri tidak merasa melakukan hal keji tersebut, akhirnya rasa kecewa pun muncul akibat Noura yang telah memfitnahnya.
3.      Klimaks :
Fahri dipenjara atas tuduhan pemerkosaan dan disiksa habis-habisan,  disana Fahri mengalami kesedihan yang luar biasa. Ia disiksa dan dipenjara dibawah tanah, sedangkan Aisyah sedang mengalami hamil dan juga bulan tersebut adalah bulan Ramadhan yang mana Fahri dan Aisyah berencana untuk Umroh. Hal tersebut merupakan hal yang dinantikan oleh mereka berdua, tapi malah sebaliknya mereka mengalami cobaan yang beruntun. Pada saat persidangan, Fahri dituduh habis-habisan oleh pengaduan Noura dan salah seorang saksi yang melihat kejadian itu, memperkuat dugaan bahwa Fahri bersalah. Keputusan itu membuatnya akan dihukum mati. Fahri tidak mempunyai bukti bahwa ia tidak bersalah, kecuali salah satu kunci utama dalam memecahkan kasus ini adalah Maria sebagai saksi yang dapat membebaskan fahri dapat memberikan kesaksiannya, sedangkan pada saat ini Maria sedang terbaring koma.
4.      Peleraian :
Akhirnya, jalan satu-satunya Fahri terpaksa menikahi Maria yang terbaring koma, dengan alasan ia akan sembuh apabila disentuh oleh Fahri. Fahri tertekan akan beberapa hal ini termasuk dari Aisyah dan orang tua Maria. Maria merupakan saksi kunci dalam kasus ini. Fahri galau dan merasa sangat bertanggung jawab atas Aisyah yang sedang mengandung.
 Aisyah ingin agar Fahri segera terbebas dan ia ingin pada saat melahirkan anaknya Fahri hadir disisinya. Aisyah pun berkeputusan mengijinkan Fahri menikahi Maria secepatnya. Fahri pun menikahi Maria. Maria sembuh dengan sentuhan Fahri. Di persidangan, walaupun dia masih duduk dengan bantuan kursi roda, ia tetap menjadi saksi kunci kasus Fahri Dengan Noura. Dan akhirnya, kebenaran selalu menang. Fahri Bebas . Naura pun mengakui bahwa semua yang dikatakannya itu bohong. Smua itu ia lakukan karena ia mencintai Fahri. Sedangkan saksi yang melihat itu merupakan saksi palsu.
5.      Akhir :
Fahri memiliki 2 orang istri yang sholeh, Aisyah dan Maria. Kondisi Maria belum pulih dan setelah dari persidangan, ia dirawat kembali di rumah sakit. Pada saat ia dirawat ada keanehan yang terjadi, Maria tertidur dan bermimpi tiba di 7 pintu surga, ia ingin masuk karena mencium kenikmatannya, ia diperbolehkan masuk sampai pintu keenam dan pintu terakhir dia boleh masuk tapi dengan syarat ia harus berwudhu dan bersyahadat, kemudian Maria meminta izin kembali untuk memenuhi persyaratan agar bisa melewati pintu ke 7 . Maria terbangun dari mimpinya. Dihadapannya telah ada Fahri dan Aisyah, ia meminta untuk diajari melakukan wudlu dan syahadat. Setelah itu, diwudhukannya dirinya. kemudian ia bercerita kejadian di dalam mimpinya, Maria pun meminta Fahri dan Aisyah untuk mengajarinya syahadat. Pada saat selesai bersyahadat, perlahan-lahan Maria menutup matanya. Ternyata,  Maria telah meninggal dengan diakhiri Dua Kalimat Syahadat, ada pesan yang ditinggalkannya ketika berbicara kepada Fahri dan Aisyah, ia akan menunggu Fahri di sorga Firdaus untuk memadu cinta dan kasih.
d. Perwatakan :
  1. Fahri    :     Rajin, pintar, sabar, terencana, tepat waktu, ikhlas, ulet, penolong, sholeh, aktifis, adil dalam memimpin, lurus, dan penuh dengan target.                          
  2. Nurul   :     Rajin, Pintar, Pemalu, tidak terbuka, kaku, emosi, dan sholeh.
  3. Maria  :     Ceria, suka bergurau, rajin, pintar tapi fisiknya lemah, manja, dan tertutup.
  4. Aisyah :     Orangnya lembut, sabar, ikhlas, terencana, pintar, dan sholeh.
  5. Noura :     Orangnya tertutup, sulit di tebak, pintar, egois, emosional, dan pendiam.
e. Setting / latar :
Mesir Kairo Al-azhar ( Negara Mesir Benua Afrika ), flat, mesjid, restoran, Metro, penjara, Rumah sakit, Alexsandria.
f. Pusat Pengisahan :
Tokoh utama menuturkan ceritanya sendiri.
g. Amanat :
  1. Dalam merencanakan sesuatu pasti akan ada halangan dan rintangan yang menghadang tujuan yang hendak dicapai. Perjalanan itu tidak selalu akan berjalan mulus.
  2. Semakin banyak ilmu / pengetahuan yang diterima atau didapat,  semakin banyak pula hambatan dan godaan yang harus dilewati. Semua itu harus dipecahkan dengan hati yang sabar. Namun,  yakinlah bahwa semua itu akan ada hikmahnya.
h. Sudut Pandang : Aku sebagai orang pertama.
i. Gaya Penulisan : Khas,unik, penuh dengan nuansa religi, penuh dengan romansa cinta.